
Sumpah Ibu yang Bisu
Bagaimana nasib akan hidup ini?
Berjalan tanpa sepasang kaki
Mencari jejak-jejak keabsahan
Yang tumbuh di telapak kaki ibu
Hari demi hari disertai kebisingan,
Kericuhan yang tak tampak pada segudang kepekatan
Khayalan hanya milik tuhan
yang bangun di atas punggung kehampaan
Cerita hidup ini makin lumpuh
Bisu, yang menjadi sumpah ibu
Mati di bawah detik waktu
Angan yang tak pernah kudengar
Dan tubuh yang tak pernah kukubur
Abai begitu saja
–
–
Keluh-Bisu Jian-Peng
Barangkali, hari itu adalah kemalangan
Kesialan yang tak pernah mendesak pada tubuhmu, Jian-Peng
Membara segala tangis diiris keluh dan kesah
Berteduh pada tubuh yang rapuh
Jian-Peng, harapan yang membuka kebinaran
Kini hampa, tergeletak dalam siasat yang ricuh
Napas terengah, mulut terbungkam
Bumi tak lagi datar dan awan tak lagi biru
Keselamatan yang katamu suatu kehormatan
Pasrah membalut kedukaan
Tak ada lagi dongeng-dongeng amerta itu
Kemakzulan jadi kebisuan
–
–
Tuhan dalam Tubuhku
Ketika Tuhan sedang tidur,
Sebenarnya Ia bangun
Membuat orang-orang tertawa
Berbangga dengan isi kepalanya sendiri
Ketika Tuhan sedang menangis,
Sebenarnya Ia marah,
Terhadap orang-orang
Yang lantang memasung kepatuhan
Dan ketika Tuhan sedang mati,
Sebenarnya Ia hidup
Melangkah dalam samudera kecil
Tanpa meninggalkan sayapnya
–
–
Candala Waktu
Sudah Saatnya kau berpaling
Menatap dunia di singgasana
Melebur, tanpa harus kaukubur
Merangkak dengan pelan hingga kelam
Dua candala di tanah madam
Merangkul cahaya,
Mengembus cakrawala
Menghapus hingar-bingar kekinian
Menghempas lirih mata dengan pelan
Sudah saatnya tanggal istimewamu kaupetik
Menggumpal dalam satu tangan
Menuai kebinasaan dengan sisa
Merengkuh kepastian yang kauasah
–
–
Bisik Malam
Malam itu pucuk tak lagi kuncup
Mekar tak selalu sabar
Menanti hari-hari yang terpadu
Pelipis yang selalu pipis
Jerit yang katamu pelit
Tak lagi lantang mengusir kerumunan
Merampas seluruh doa
Meringkas dalam satu sejarah
Kebinaran yang kaunanti
Melukis sketsa di malam itu
Merintis seribu sejarah
Mengeja di setiap aksara
–
–

Ilhmjyd, merupakan nama pena dari Ilham Jayadi, alumnus Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi serta merupakan anak asuh Komunitas Penyisir sastra Iksabad (Persi).
Tinggalkan Komentar