Info Sekolah
Kamis, 16 Apr 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
3 Agustus 2025

Puisi-Puisi Ilham Jayadi

Ming, 3 Agustus 2025 Dibaca 177x Puisi

Sumpah Ibu yang Bisu

Bagaimana nasib akan hidup ini?

Berjalan tanpa sepasang kaki

Mencari jejak-jejak keabsahan

Yang tumbuh di telapak kaki ibu

Hari demi hari disertai kebisingan,

Kericuhan yang tak tampak pada segudang kepekatan

Khayalan hanya milik tuhan

yang bangun di atas punggung kehampaan

Cerita hidup ini makin lumpuh

Bisu, yang menjadi sumpah ibu

Mati di bawah detik waktu

Angan yang tak pernah kudengar

Dan tubuh yang tak pernah kukubur

Abai begitu saja

Keluh-Bisu Jian-Peng

Barangkali, hari itu adalah kemalangan

Kesialan yang tak pernah mendesak pada tubuhmu, Jian-Peng

Membara segala tangis diiris keluh dan kesah

Berteduh pada tubuh yang rapuh

Jian-Peng, harapan yang membuka kebinaran

Kini hampa, tergeletak dalam siasat yang ricuh

Napas terengah, mulut terbungkam

Bumi tak lagi datar dan awan tak lagi biru

Keselamatan yang katamu suatu kehormatan

Pasrah membalut kedukaan

Tak ada lagi dongeng-dongeng amerta itu

Kemakzulan jadi kebisuan

Tuhan dalam Tubuhku

Ketika Tuhan sedang tidur,

Sebenarnya Ia bangun

Membuat orang-orang tertawa

Berbangga dengan isi kepalanya sendiri

Ketika Tuhan sedang menangis,

Sebenarnya Ia marah,

Terhadap orang-orang

Yang lantang memasung kepatuhan

Dan ketika Tuhan sedang mati,

Sebenarnya Ia hidup

Melangkah dalam samudera kecil

Tanpa meninggalkan sayapnya

Candala Waktu

Sudah Saatnya kau berpaling

Menatap dunia di singgasana

Melebur, tanpa harus kaukubur

Merangkak dengan pelan hingga kelam

Dua candala di tanah madam

Merangkul cahaya,

Mengembus cakrawala

Menghapus hingar-bingar kekinian

Menghempas lirih mata dengan pelan

Sudah saatnya tanggal istimewamu kaupetik

Menggumpal dalam satu tangan

Menuai kebinasaan dengan sisa

Merengkuh kepastian yang kauasah

Bisik Malam

Malam itu pucuk tak lagi kuncup

Mekar tak selalu sabar

Menanti hari-hari yang  terpadu

Pelipis yang selalu pipis

Jerit yang katamu pelit

Tak lagi lantang mengusir kerumunan

Merampas seluruh doa

Meringkas dalam satu sejarah

Kebinaran yang kaunanti

Melukis sketsa di malam itu

Merintis seribu sejarah

Mengeja di setiap aksara

Ilhmjyd, merupakan nama pena dari Ilham Jayadi, alumnus Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi serta merupakan anak asuh Komunitas Penyisir sastra Iksabad (Persi).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar