Info Sekolah
Rabu, 15 Apr 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
12 April 2026

Jalan Sunyi Atira: Dari MA Nasy-Mut ke Kampus Negeri

Ming, 12 April 2026 Dibaca 32x Berita

“Sukses itu ketika kita punya impian, lalu benar-benar memperjuangkannya sampai kita paham apa yang kita kejar,”—Sitti Atira

Nasymut Media melakukan wawancara tertulis dengan Sitti Atira untuk menggali lebih dalam proses, perjuangan, serta nilai-nilai yang mengantarkannya lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Melalui wawancara ini, terpotret perjalanan seorang siswa dari latar sederhana yang menapaki jalan panjang menuju perguruan tinggi negeri dengan disiplin, ketekunan, dan keyakinan yang terjaga.

Tidak semua keberhasilan lahir dari satu momentum besar. Sebagian justru tumbuh perlahan, dari proses yang panjang dan nyaris tak terlihat. Dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari, dari disiplin yang dijaga tanpa banyak sorotan, serta dari keyakinan yang tidak goyah meski dihadapkan pada keterbatasan. Di ruang-ruang sederhana itulah Sitti Atira menata mimpinya, jauh sebelum namanya tercantum sebagai salah satu siswa yang lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Siswi kelas XII IPS MA Nasy’atul Muta’allimin, Candi ini diterima di Universitas Trunojoyo Madura pada program studi Agroekoteknologi, sebuah pilihan yang telah ia rancang sejak lama.

Ketertarikan Atira pada bidang pertanian tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan aktivitas agraris, sehingga perlahan terbentuk kesadaran tentang pentingnya sektor tersebut. Baginya, pertanian bukan sekadar pekerjaan atau profesi yang diwariskan, tetapi ruang pengabdian yang bisa dikembangkan melalui ilmu pengetahuan. Dalam wawancara, ia menjelaskan arah pilihannya dengan cukup tegas, “Saya memang sejak awal ingin kuliah di jurusan ini karena ingin mengembangkan ilmu pertanian. Saya melihat bidang ini penting untuk kehidupan masyarakat.” Pilihan itu memperlihatkan bahwa langkahnya tidak dibentuk oleh sesuatu yang kebetulan, terdapat kesadaran yang tumbuh perlahan.

Akar yang Kuat

Perjalanan Atira tidak bisa dilepaskan dari latar belakang keluarganya yang sederhana. Ia tumbuh dalam kondisi ekonomi yang terbatas, tetapi hal tersebut tidak pernah mematahkan tekadnya. Sejak duduk di bangku madrasah tsanawiyah, ia sudah memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Keinginan itu terus ia jaga, bahkan ketika ia menyadari bahwa jalan yang akan ditempuh tidak mudah dan penuh keterbatasan.

Dalam prosesnya, dukungan keluarga menjadi kekuatan utama. Orang tuanya mungkin tidak mampu menyediakan fasilitas terbaik, tetapi mereka selalu berusaha memenuhi kebutuhan belajar Atira. Hal itu ia rasakan sebagai dorongan yang sangat berarti. “Saya berasal dari keluarga sederhana, tapi orang tua selalu mendukung keinginan saya untuk kuliah. Meski kadang sulit, mreka selalu berusaha memenuhi kebutuhan saya untuk belajar,” tuturnya. Kesadaran ini membuat Atira tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sekecil apa pun.

Dalam keseharian, ia menjalani proses belajar dengan ritme sederhana namun disiplin. Ia tidak menunggu waktu tertentu untuk mulai serius. Setiap hari, setiap saat adalah waktu untuk mempersiapkan. Di sekolah, ia berusaha fokus pada pelajaran. Di rumah, ia kembali membuka buku, mengulang materi, serta mencari referensi tambahan. “Di luar jam sekolah saya membuat waktu belajar sendiri. Mungkin saya harus mengurangi waktu bermain, tapi itu bagian dari usaha,” ujarnya.

Ia juga memanfaatkan internet sebagai sumber belajar tambahan, terutama untuk mengakses soal dan materi gratis. Keterbatasan akses tidak membuatnya berhenti, justru mendorongnya untuk lebih aktif mencari peluang. “Saya belajar dari soal-soal di internet dan mengikuti bimbingan dari sekolah. Setiap ada akses, saya manfaatkan,” jelasnya. Cara ini menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan keadaan.

Dalam hal metode belajar, Atira lebih menekankan pemahaman daripada hafalan. Ia menyadari bahwa pemahaman akan lebih bertahan dan membantu menghadapi variasi soal. “Menurut saya yang paling penting itu memahami. Kalau hanya menghafal, nanti bingung ketika terdapat soal yang agak sedikit berbeda,” katanya. Pendekatan ini menjadi salah satu kunci yang membuatnya lebih siap dalam berbagai proses ujian.

Konsistensi Sunyi dan Keyakinan yang Menuntun

Sebagai jalur seleksi berbasis prestasi, SNBP menuntut konsistensi yang tidak sebentar. Atira memahami bahwa keberhasilan di jalur ini bukan hasil kerja sesaat, melainkan akumulasi dari proses panjang. Ia pun berusaha menjaga ritme belajar dan tidak membiarkan dirinya lengah. Ia tidak mengejar hasil instan, tetapi berfokus pada proses yang berkelanjutan.

Namun perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Rasa jenuh dan lelah tetap hadir sebagai bagian dari proses. Atira mengaku pernah berada di titik di mana semangatnya menurun. “Pasti ada fase jenuh dan ingin menyerah. Kadang saya merasa capek juga,” ujarnya. Meski demikian, ia memiliki cara sederhana untuk mengatasinya, seperti berjalan santai di sekitar rumah untuk menyegarkan pikiran. Cara itu membantunya kembali fokus.

Selain itu, ia juga memiliki pengingat yang kuat ketika mulai kehilangan semangat. Ia selalu mengingat perjuangan orang tuanya sebagai sumber motivasi. “Kalau mulai malas, saya ingat bagaimana orang tua saya berjuang menyekolahkan saya. Itu yang membuat saya semangat lagi,” tuturnya. Pengingat ini menjadi kekuatan yang membuatnya tetap bertahan.

Lingkungan sekolah turut memberikan peran penting dalam proses tersebut. Guru-guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memberikan motivasi dan arahan kepada siswa untuk melanjutkan pendidikan. “Guru-guru di MA Nasy-Mut sangat mendorong kami untuk kuliah dan membimbing langsung dalam persiapan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi sejak jauh-jauh hari,” ungkapnya.

Di sisi lain, lingkungan pertemanan juga memberikan pengaruh positif. Atira berada dalam lingkaran teman yang saling mendukung dan memiliki tujuan yang sama. Mereka berbagi informasi, berdiskusi, dan saling menyemangati. “Kami saling berbagi informasi dan mendukung satu sama lain,” katanya. Lingkungan ini membuat proses belajar terasa lebih ringan.

Seiring berjalannya waktu, keyakinan Atira semakin menguat. Ia belajar percaya pada proses yang dijalani. Baginya, kepercayaan diri menjadi hal penting agar tidak mudah menyerah. “Sejak awal saya berusaha percaya diri. Kalau tidak percaya diri, mungkin saya tidak ada di titik sekarang ini,” ujarnya.

Ketika pengumuman SNBP tiba, rasa bahagia tidak bisa disembunyikan. Ia merasa bahwa semua usaha yang dilakukan akhirnya terbayar. “Saya sangat senang karena apa yang saya usahakan tercapai. Saya jadi yakin tidak ada usaha yang sia-sia,” tuturnya. Kebahagiaan itu juga dirasakan oleh keluarganya.

Lebih dari sekadar capaian, kelolosan ini membawa perubahan dalam dirinya. Ia merasakan semangat baru untuk terus belajar dan berkembang. “Setelah lolos, saya justru semakin semangat belajar. Semangat itu belum pernah saya rasakan sebesar ini,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan justru menjadi awal dari dorongan yang lebih besar untuk terus belajar.

Dalam memandang hidup, Atira memiliki prinsip yang sederhana namun kuat. Ia percaya bahwa setiap usaha harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. “Selagi masih hidup, lakukan yang terbaik untuk masa depan,” katanya. Prinsip ini menjadi dasar dalam setiap langkah yang ia ambil.

Ia juga memiliki cara pandang yang matang tentang kegagalan dan keberhasilan. Baginya, kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. “Kegagalan itu bukan akhir, tapi awal untuk mencapai keberhasilan,” ujarnya. Pandangan ini membuatnya tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan.

Bagi Atira, makna sukses juga tidak diukur dari hasil semata, tetapi dari proses memperjuangkan mimpi. “Sukses itu ketika kita punya impian, lalu benar-benar memperjuangkannya sampai kita paham apa yang kita kejar,” tuturnya. Definisi ini menunjukkan kedewasaan cara berpikir yang terbentuk dari proses yang ia jalani.

Ke depan, ia tidak memiliki gambaran yang terlalu jauh, tetapi ia yakin harus terus melangkah. Memang, Atira dikenal sebagai siswa yang selalu optimis dan kiritis dalam berpikir. “Saya belum tahu pasti ke depan seperti apa, tapi yang jelas harus terus melangkah satu demi satu,” katanya.

Di akhir percakapan, Atira menyampaikan pesan kepada adik kelas yang ingin mengikuti jejaknya. Ia menekankan pentingnya memulai lebih awal dan menjaga semangat. “Kalau ingin masuk perguruan tinggi negeri, mulailah dari sekarang. Jangan menunggu. Lebih baik cepat daripada terlambat mempersiapkan. Dan yang paling penting, jangan menyerah,” pesannya. Ia juga merangkum kunci keberhasilannya dengan sederhana, “Konsisten dan disiplin. Fokus pada tujuan.” Kisah Atira menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar dan mencolok. Ia bisa tumbuh dari proses yang sunyi, dari usaha yang dilakukan secara konsisten, dan dari keyakinan yang dijaga dalam waktu lama. Langkah kecil yang ia rawat setiap hari kini telah membawanya menuju gerbang baru. Sebuah awal yang lahir bukan dari keberuntungan, melainkan dari ketekunan yang tidak pernah berhenti.(MSY/MAT)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar