Info Sekolah
Sabtu, 30 Mei 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
3 Agustus 2024

Game dan Moral yang Kian Merosot

Sab, 3 Agustus 2024 Dibaca 511x

Tahun 2017 dalam reality show berjudul Indonesia Lawak Klub (ILK) yang ditayangkan di Trans TV, Cak Lontong komedian yang terkenal dengan candaan ringannya itu untuk pertama kalinya berceletuk tentang kebutuhan utama manusia, yang saat ini tidak cukup sekadar Sandang, Papan, Pangan, bertambah satu kebutuhan lain yaitu Cash-an (Chargher). Tahun 2018 juga muncul satu istilah baru dalam ilmu psikologi yaitu nomophobia (no mobile phone phobia), kondisi dimana seseorang mengalami kecemasan berlebih ketika tidak bersama ponsel.

Ini membuktikan betapa hari ini kebutuhan manusia tidak bisa dilepas dari pengaruh teknologi, lebih-lebih smartphone dan internet. Mafhum, keberadaannya memberikan kemudahan nyaris di semua lini kehidupan manusia. Tak berlebihan jika kemudian untuk menggambarkan kecanggihan internet dan smartphone ini muncul istilah dunia dalam genggaman.

Masalah yang kemudian muncul adalah ketika teknologi ini berada di tangan anak-anak, usia di mana dirinya masih belum mampu memilah dengan bijak baik dan buruk. Kasus yang terjadi, bukan justru memberi manfaat, melainkan mudarat.

Game online adalah salah satu bagian dari masalah itu. Tak perlu melihat pada kasus yang hanya kita temukan dalam berita namun jauh dari jangkauan mata, anak-anak di sekitar kita bahkan telah terpapar dampak buruk game online ini. Terjebak dalam permainan hingga lupa waktu, akibatnya tugas dan tanggungjawab belajar bahkan beribadah terabaikan.

Di lingkungan sosial, anak-anak dalam kondisi kecanduan game ini cenderung bersikap tempramental, lebih suka menyendiri dan sukar bersosial. Otak dan pikirannya didominasi perasaan dan tuntutan selalu ingin menang. Suatu keadaan yang patut disayangkan.

Merosotnya moralitas remaja kita juga tak lepas dari pengaruh buruk kecanduan game online ini.  Cara berinteraksi anak-anak hari ini cenderung angkuh, kasar dan arogan. Sikap turunan setelah waktunya dia habiskan dengan makhluk tanpa nyawa dan perasaan.

Namun demikian, game hanyalah benda mati tanpa fungsi jika tidak ada manusia sebagai pemegang kendali. Ia hanya bagian dari kemajuan teknologi yang jika digunakan sesuai kadar dan porsi akan tepat posisi. Bahkan tak dapat dipungkiri sisi lain dari game adalah melatih kecerdasan otak serta mengajari agar cerdik mengatur strategi.

Lalu bagaimana kemudian game dan tekhnologi ini akan kita arahkan sebagai sesuatu yang menguntungkan bukan justru menjadi bumerang?

Peran orang tua tak bisa diabaikan dalam hal ini. Sebagai orang yang berinteraksi pertama kali dengan anak, orang tua memiliki ikatan emosional yang lebih dekat bahkan daripada guru yang mengajarinya kebijaksanaan dan keteladanan. Maka dalam hal ini upaya pengawasan dan pembatasan penggunaan smartphone, termasuk media sosial dan game-game itu akan lebih efektif dalam pantauan orang tua.

Membersamai kebiksanaan-kebijaksanaan yang diajarkan di Madrasah, mari para orang tua memberikan pemahaman sebijak mungkin kepada anak-anak kita penggunaan media sosial sesuai kadar dan kebutuhan, karena kebablasan lebih tidak menyenangkan daripada sesuatu yang dilakukan dengan keterbatasan dan kekurangan. (Kepala MTs Nasy-mut)

Artikel Lainnya

Oleh : Moh. Ali Tsabit

Pesan Imam Syafi’i kepada Gen Z

Oleh : Ahmad Muchlish Amrin

PENSIL

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar