
(Aobur Elmo, Asekep Akhlaqul-karimah)
Peran peting madrasah dalam dinamika sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia mustahil dinafikan. Sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia, madrasah senantiasa ikut serta mewujudkan gugusan cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Insan-insan intelektual yang religius dan berbudi pekerti luhur (berakhlaqul karimah) lahir dari rahim madrasah. Tidak sedikit dari mereka juga menjadi penentu gerak serta arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sekitar 1966 M, di Dusun Poja, Desa Candi, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, untuk pertama kalinya didirikanlah sebuah madrasah yang diberi nama Nasy-atul Muta’allimin.
Madrasah yang kelak masyhur dengan sebutan Nasy-Mut, Candi itu diprakarsai oleh K.H. Ahmad Jailani, seorang yang dikenal memiliki kecintaan serta kesadaran tinggi terhadap pentingnya ilmu pengetahuan. Menurutnya, tanpa ilmu manusia tak ubahnya anai-anai, alih-alih memberi kebermanfaatan justru dapat merusak kehidupan.
Kondisi sosial masyarakat kala itu yang mendorong K.H. Jailani mendirikan madrasah. Ia melihat banyak anak-anak yang tidak mengeyam pendidikan. Selain karena faktor ekonomi, sebagian besar masyarakat memang cenderung abai dan tidak menganggap penting sebuah pendidikan.
Ketika mendirikan Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi usia K.H. Jailani masih sekitar dua puluh lima tahun. Walau masih sangat muda, sebagai seorang pemimpin ia dikenal tegas dan kharismatik.
K.H. Jailani lahir pada tahun di mana bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, yaitu pada tahun 1945 di Dusun Poja, Desa Candi, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, dengan nama Madher. Ayahnya bernama H. Abdul Latip (Ringgit) dan ibunya bernama Nyai Sea.
Syahdan, kecintaan K.H. Jailani terhadap ilmu pengetahuan sudah tampak sejak ia masih kanak-kanak hingga beliau wafat. Girah belajarnya umpama api tak kunjung padam; tak lekang di panas, tak lapuk di hujan. Beliau belajar dari surau ke surau; dari pesantren ke pesantren; dari satu guru ke guru lainnya.
Setelah menamatkan pendidikan dasar di desa kelahirannya, pengembaraan K.H. Jailani dalam mencari ilmu berlanjut ke daerah Battangan, Gapura, tepatnya di Pondok Pesantren Nurul Jalil yang saat itu diasuh oleh Kiai Toan Abdul Jalil. Setelah dari Battangan beliau kembali berangkat ke Guluk-Guluk untuk berguru kepada K.H. Ilyas Syarqawi dan beberapa kiai lain di Pondok Pesantren Annuqayah.
Menurut penuturan istri K.H. Jailani, Nyai Duriah—di masa awal pernikahan mereka—K.H. Jailani masih sering pergi ke Pondok Pesantren Annuqayah untuk mengaji. Padahal jarak dari tempat ia tinggal ke daerah Guluk-Guluk tidak tergolong dekat. Selain itu, tengah malam K.H. Jailani nyaris selalu menyempatkan diri untuk membaca kitab (mutalaah).
Barangkali K.H. Jailani adalah representasi dari apa yang disebut sebagai santri kelana.
Perjuangan K.H. Jailani dalam bidang pendidikan tidak langsung dimulai dengan membangun madrasah. Pada mulanya, ia kerap bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga dan kerabat terdekat. Hal demikian beliau lakukan untuk membangun kanal emosional dengan masyarakat. Beliau paham bahwa kokohnya ukhuwah merupakan fondasi dari sebuah dakwah.
K.H. Jailani melakukan aktivitas silutarrahmi tersebut dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Dalam setiap obrolan dengan orang-orang yang ditemui, K.H. Jailani senantiasa menyelipkan sedikit demi sedikit obrolan ihwal syariat Islam serta pentingnya ilmu, utamnya ilmu agama.
Silaturrahmi sebagai strategi dakwah yang dilakoni K.H. Jailani pelan-perlahan mendapat tempat di hati masyarakat Desa Candi, bahkan pula masyarakat desa lain. Sebab, K.H. Jailani bukan saja dikenal sebagai sosok yang berilmu, tetapi juga sosok yang mengedepankan akhlaqul-karimah dalam setiap laku kesehariannya. Masyarakat menganggap K.H. Jailani sebagai figur yang pantas diteladani, baik secara keilmuan maupun sosial-keagamaan. Oleh karena itu, mulai banyak masyarakat yang memercayakan putra-putrinya untuk belajar dan dididik langsung oleh K.H. Jailani.
Mulanya K.H. Jailani hanya mengajar anak-anak mengaji di musala miliknya. Seiring berjalannya waktu beliau mendirikan madrasah ibtidaiah (MI) yang diberi nama Nasy-atul Muta’allimin, Candi. Tujuan didirikannya madrasah tersebut untuk memberi lebih banyak lagi kesempatan belajar berbagai ilmu pengetahuan, utamamya ilmu agama, kepada anak-anak di desanya.
K.H. Ahmad Jailani wafat di usia 44 tahun. Tepatnya pada hari Jumat, 1989 M. Saat itu Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi yang didirikannya masih berusia 23 tahun.
Kemudian, Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi dilajutkan dan dikelola bersama-sama oleh keluarga serta sahabat-sahabat dari K.H. Jailani. Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi masih eksis hingga hari ini, bahkan telah mengalami banyak perkembangan.
Kini Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi telah memiliki enam lembaga pendidikan, yaitu pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK), madrasah ibtidaiah (MI), madrasah tsanawiah (Mts), madrasah aliah (MA), dan madrasah diniyah, di mana semua lembaga tersebut berada di bawah naungan Yayasan Al-Jailani.
57 tahun eksistensi Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi tentu saja bukanlah waktu yang sebentar. Alumni Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi tersebar di banyak daerah dengan menggeluti berbagai bidang masing-masing; ada yang menggeluti dunia akademis (seperti mubaligh, guru, dosen, dan peniliti); hukum (advokat); ekonomi/niaga (perbankan dan pengusaha); kesehatan (dokter, perawat, dan apoteker); politik (politisi dan aktivis); pegawai negeri sipil; seni-budaya (seniman, sastrawan, jurnalis, desainer, fotografer, dll.); ada pula yang menjadi infuencer; dan berbagai bidang lainnya.
Menurut Nyai Nahlatun, putri K.H. Jailani, pesan yang senantiasa disampaikan K.H. Jailani kepada santri-santrinya ialah orang mencari ilmu tidak ada tapal batasanya, sebab elmo aropa’agi oburra ka odhi’an tor akhlak sekeppa oreng se ajalani ka odhia’an. Artinya, ilmu adalah penerang kehidupan agar seseorang tidak mudah tersesat. Namun ilmu saja tidak cukup, seseorang harus selalu mengedapankan akhlaqul-karimah di tiap tindak-tanduknya. Akhlak adalah azimat paling ampuh selama manusia hidup di dunia. Hal ini selaras dengan visi kenabian Muhammad saw. yaitu memperbaiki akhlak manusia.
Oleh karena itu, Madrasah Nasy-atul Muta’allimin yang didirikan K.H. Jailani tidak sekadar menjadi warisan materiel dalam bentuk bangunan. Madrasah Nasy-atul Muta’allimin telah menjadi monomen ilmu pengetahuan. Sementara akhalaqul-karimah K.H. Jailani adalah risalah tak tertulis, namun terus didaras sepanjang masa.***