
Adik-adik murid Nasy-atul Muta’allimin! Yuk, membaca sambil jalan-jalan. Atau minimal sambil membayangkan anda sedang jalan-jalan, healing, dengan dipandu Pak Sahwari dan Pak Rikso. Yuk, lanjut ya…
Kita mengenal, setidaknya sampai hari ini bahwa pensil adalah alat tulis, alat mencatat, alat menandai di atas sebuah media. Dan, ternyata pensil adalah sebuah kehidupan. Pensil adalah sebuah gambaran tentang dunia. Pensil tidak lagi bermakna sebagai sebuah benda biasa, tetapi pada dirinya ia berbicara banyak tentang peradaban. Salah satu bukti bahwa pensil tidak sekedar pensil, ia mampu menelusup dalam banyak dunia. Tidak hanya di bangku anak-anak sekolah, pensil juga dapat ditemukan di tangan para arsitektur, para tukang kayu, para pelukis, hingga merambah dunia kecantikan dengan pensil alis ( eyebrow pencil ).
Pensil dalam bahasa Prancis kuno disebut pincel , yang diserap dari bahasa Latin Pincellus , artinya ekor kecil. Istilah tersebut merujuk pada sebuah alat yang terbuat dari bulu unta, yang sering dipakai para seniman kuno, digunakan untuk menulis. Tak ada yang tahu, siapa yang mempunyai ide memasukkan grafit atau timah hitam yang halus ke dalam kayu seperti bentuknya yang sekarang. Hanya saja di abad 16, model pensil sebagaimana yang kita pakai sekarang, sudah tiba di daratan Eropa.
Sekitar tahun 1564, di Inggris Utara sekitar satu jam empat puluh menit dari kota Manchester, tepatnya di borrowdale, Lake District. Ditemukan sebuah grafit original bahan pensil. Para peneliti mencoba menggunakannya di berbagai media, membubuhkan warna hitam yang bisa dihapus, meskipun saat itu hasilnya belum memuaskan karena terkesan agak kotor, hingga akhirnya dicampur debu menjadi lebih keras dan tidak mudah patah sebagaimana di periode-periode sebelumnya. Untuk menandai proses sejarah dan peradaban pensil di Inggris atau Britania Raya, salah satu group musik, Pulp mengabadikannya dalam salah satu lagu berjudul Pencil Skirt, yang salah satu liriknya berbunyi:
When you raise your pencil skirt
Like a veil before my eyes
Like the look upon his face
As he’s zipping up his flies
Pulp adalah salah satu group musik yang muncul di Inggris pada tahun 1978 di The City School di Sheffield oleh Jarvis Cocker, saat itu berusia 15 tahun, dan Peter Dalton, saat itu berusia 14 tahun. Sepanjang perjalanan karier mereka mengalami pasang surut, namun sudah banyak meraih penghargaan di Amerika dan Eropa. Lagu-lagu dan konsernya juga seringkali ditunggu. Melalui lirik lagunya, Pulp memberikan wawasan dan kesadaran tentang pencapaian, cinta, dan kritik sosial. Itulah sebabnya, di tahun 1990-an Pulp seperti lampu dan binatang jalang; begitu dicintai dan dirindukan.
*
Gimana adik-adik murid Nasy-atul Muta’allimin? Sudah capek bacanya? Kalau capek yuk melangkah sedikit ke warung Pak Safrawi sambil pesan pentol atau warungnya mbak Eni pesan tahu pedas ya. Biar nggak ngantuk. Asyik lo sambil baca ya dik ya! Atau kalau sedikit lapar bisa pesan rujak lontong di Su’ide atau Bu Amir. Bisa juga nasi lembayung di ba’ Mae.
Lanjut ya dik ya!
Di pinggiran Keswick, Inggris, jika anda pernah berkunjung ke sana. Ada museum pensil Derwent. Sebuah museum yang menyimpan banyak kisah dari awal mula pensil ditemukan. Menurut dokumentasi museum ini, pensil primitif dengan bentuknya yang tetap dipertahankan hingga sekarang ditemukan oleh para penggembala di Borrowdale, yang kemudian dikembangkan dalam berbagai macam bentuk, jenis, dan fungsinya. Transisi proses pembuatan pensil dari yang pada mulanya kerajinan tangan berpindah ke manufaktur terjadi sekitar tahun 1760-1840.
Yang paling menarik, Museum Pensil Derwent masih menyimpan pensil peta rahasia yang dibuat secara khusus pada perang dunia II. Pensil ini memiliki satu dari empat peta berbeda yang digulung di dalamnya, dan kompas mini tersembunyi di bawah karetnya. Pensil ini jadi bekal pilot M15-Q, yang berhasil menempatkan diri di belakang garis musuh. Jika anda menginginkan replikanya, sekarang masih terjual di toko museum pensil Derwent.
Di kota Bandung, tepatnya di depan jalan Asia-Afrika, ada gedung pensil yang didirikan pada tahun 1918. Konsepnya bergaya Eropa karena menjadi bagian dari peninggalan kolonial Belanda. Gedung pensil ini atapnya sangat unik, berbentuk kerucut dan ujungnya seperti pensil yang sudah diraut. Sempat menjadi pusat perdagangan pada tahun 1930-an. Salah satu perusahaan yang pertama kali menempati gedung ini adalah Handel Min Groote and scholtz. Namun saat ini, gedung ini diambil alih negara, ditempati perusahaan BUMN, PT. Danareksa yang bergerak di bidang jasa keuangan.
Hingga saat ini, tak ada yang tahu siapa peramu arsitektur gedung pensil itu, meskipun tak cukup bukti, beberapa tokoh mencurigai gedung itu diarsiteki oleh C. P. Wolf Schoemaker atau Albert Aalbers. Schoemaker adalah seorang arsitek besar dunia sebelum perang dunia II, beberapa karya arsiteknya berdiri tegak hingga sekarang, diantaranya Gereja Katedral di Jalan Merdeka, Gereja Bethel di Jalan Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Sociëteit Concordia, Gedung Asia Afrika, Villa Isola, dan Gedung PLN di Bandung. Karena beberapa karyanya banyak bertebaran di kota Bandung, gedung pensil ditengarai bagian dari karyanya juga.
*
Nah, sekarang jalan-jalannya sudah ya dik! Pak Sahwari dan Pak Rikso sudah capek. Duduk dulu sebentar ya! Yuk, pusatkan pandangan ke depan, taruh kedua tangan di atas meja. Ngaji dulu ya seperti Adik-Adik sedang mendengarkan pengajian Pak Fathor al-Balumbangi.
Bahkan dalam al-Qur’an, pensil menjadi nama surat; al-Qalam. Melalui ayat pertama di surat itu, Allah SWT. bersumpah atas nama pena/pensil; Nun, wa al-qalami wa ma yasthurun artinya Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Ayat ini turun tidak lama setelah ayat pertama turun yang isinya tentang perintah membaca (iqra’). Sumpah dengan “hal tertentu” menunjukkan bahwa hal itu memiliki arti penting setidaknya bagi pengucap sumpah. Kadang juga sumpah berfungsi untuk menguatkan atau memberikan penekanan (stressing), agar objek yang diajak berkomunikasi lebih berhati-hati dan lebih yakin akan substansi yang ingin disampaikan berikutnya.
Pada ayat itu, terdapat tiga kata kunci yang sangat penting; nun, qalam, dan ma yasthurun. Arrazi melalui tafsir al-Kabir, memaknai tiga entitas penting yang saling bergelayut itu adalah bahwa Nun, merupakan entitas yang tak terjangkau, yang merupakan akhir dari kata “ar-Rahman”. Sementara “al-Qalam” merupakan benda pertama yang Allah Swt. ciptakan, kemudian Allah memerintahkan agar pena/pensil itu menuliskan semua yang akan terjadi di langit dan bumi sampai hari kiamat di atas lembaran entitas yang ketiga, yaitu lembaran yang terpelihara (ma yasthurun). Penjelasan itu, mirip dengan pembahasan Imam Jalalain dalam tafsir al-Jalalain yang mengatakan bahwa pena/pensil merupakan alladzi kataba bihi al-kainati fi al-lauhi al-mahfudzi, yang dipakai untuk menulis nasib semua makhluk di lauh mahfudz.
Dalam khazanah lain, ayat ini dibuka dengan kata “Nun”, seringkali dikaitkan dengan kisah Nabiyullah Yunus As, yang diselamatkan oleh raja ikan bernama ikan Nun. Penjelasan itu merujuk pada julukan Nabi Yunus yang disebut sebagai dzunnun (QS. Al-Anbiya’: 87). Azizuddin Nasafi, seorang ulama’ abad ke-13 menafsirkan ayat satu surat al-Qalam ini sebagai sebuah kesinambungan yang terkait. “Nun”, baginya seperti sebuah wadah tinta, sumber inspirasi untuk dituliskan. Sedangkan kata “al-qalam” adalah idiom alat tulis; bagian yang bergerak merealisasikan inspirasi dari cawan tinta. Dan, “ma yasthurun” merupakan lembaran kejadian yang tersembunyi dan rahasia; big data dari peristiwa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Dalam bahasa umum sering disebut sebagai ummu al-kitab.
Dari sekelumit pelajaran dalam al-Qur’an kita dapat mengetahui bahwa membaca dan menulis menjadi perhatian Allah Swt. Tetapi, yang perlu lebih berhati-hati lagi adalah tanggung jawab dari bacaan dan tulisan yang kita tuangkan. Pensil akan berdampak baik jika digunakan untuk kebaikan pula. Demikian juga sebaliknya, pensil akan menjadi petaka apabila dijadikan media untuk menipu dan berbuat nakal. Kejahatan yang dilahirkan oleh pena/pensil akan membekas sepanjang masa, jejaknya akan ditemui di mana-mana. Ia menjadi lebih tajam dari pisau dan celurit yang paling tajam sekalipun. Itulah sebabnya, memegang pensil juga perlu bijaksana dan iman.*
Tinggalkan Komentar