Info Sekolah
Jumat, 29 Mei 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
18 Agustus 2024

Pantang Menyerah

Ming, 18 Agustus 2024 Dibaca 455x

“Ketika anak-anak ditanya, mau jadi apa kalau sudah besar nanti? Mereka menjawab, “mau jadi politisi, dokter, pegawai negeri, perawat, pilot, dan pramugari.” Tidak ada yang berani menjawab ingin jadi pahlawan. Mengapa? Karena pahlawan bukan profesi, tetapi sebuah panggilan hati”

Setiap tanggal 17 Agustus, muncul sebuah ‘imajinasi’ tentang perjuangan para pahlawan. Nyanyian-nyanyian Garuda di dada pun menggema dimana-mana, bahkan sang saka merah putih berkibar dan mengudara di angkasa raya. Kepala dan tangan dengan tegak menghadap ke atas sembari menaruh hormat kepadamya. Rasa haru menyelimuti jiwa, raga, hingga meneteskan air mata. Dalam benak kita, negara ini dibangun dari jerih payah, bahkan darah.

“Indonesia” tentu bukan hanya sebuah nama, tetapi menyimpan sejarah yang penuh makna, sehingga wajib terus dikenang sepanjang zaman. Dalam huruf-hurufnya, ada aroma darah, cita, integritas, dan rasa pantang menyerah.

Maka tak terlalu berlebihan ketika pada tanggal 17 Agustus dijadikan momentum yang tak pernah alpa digelorakan. Upacara, berbagai aneka lomba betemakan kemerdekaan digelar di seantero negeri. Jelas, demi satu cita, mendoakan para pahlawan dan mengenang pengorbanan mereka. Hal demikian adalah salah satu cara bagi bangsa ini untuk menjaga marwah kemerdekaan dan menjaga rasa nasionalisme dan patriotisme parah pahlawan.

Sehingga setiap orang yang merasa manusia Indonesia pasti ingat bahwa kemerdekaan yang kita raih itu bukan sebuah kebetulan, namun melalui perjuangan yang panjang. Maka dari itu, kemerdekaan yang kita raih 79 tahun silam harus tetap kita jaga dan ambil guna menimba teladan hidup dari mereka. Karena apa yang mereka lakukan ibarat mercusuar di tepi laut, mereka (para pahlawan) itu adalah penunjuk arah yang jelas bagi kehidupan kita, sekarang dan masa depan yang penuh tantangan dan harapan.

Kita, generasi pewaris peradaban para pahlawan harus tahu bahawa cita-cita mereka adalah kemerdekaan bangsa Indonesia; pembebasan ibu pertiwi dari penjajahan bangsa asing. Ini adalah cita-cita besar para funding father. Bung Karno sebagai proklamator sudah mengatakan supaya kita menggantungkan cita-cita setinggi langit. Bagi Soekarno, cita-cita akan membuat kita bangun lebih pagi, lebih lama melihat dan mendengar, membuat kita lebih lama bekerja walau di bawah terik matahari, rela berdesak-desakan dalam bus hanya demi mengais rejeki, bekerja sampai lembur di kantor, hingga tak tahu kapan waktunya beristirahat.

Tulisan ini tidak punya tujuan apa-apa, kecuali hanya untuk mengajak anak negeri untuk melalukan refleksi dan aksi nyata demi negeri yang suci dan berdikari. Karena saya, anda dan kita semua telah menyadari bahwa setiap zaman menyediakan tantangan dan kesempatan yang berbeda bagi generasi berikutnya. Sehingga menuntut kita untuk melakukan tindakan-tindakan besar, tindakan-tindakan yang bermakna, yaitu sebuh tindakan yang tidak hanya berbuat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi kebaikan orang lain dan kepentingan orang banyak.

Dengan bekal cita-cita, keberanian, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berkorban di abad ini, kita meyaknini bahwa generasi itu akan mampu menjaga marwah kemerdekaan dan para pahlawan. Demi satu impian, demi Indonesia yang lebih berperadaban; cerdas, sejahtera dan penuh cita. Sehingga bagi kita sebagai kaum muda, suatu melenium baru yang penuh dengan tantangan. Satu dunia baru yang berani, “A brave new World”. Kita pun merenungkan untaian kata: Tiada pengorbanan yang sia-sia, tiada rintangan yang tak dapat diatasi.