
Di bukit persinggahan
Kulihat lelaki bermata angin
Senyum elok bak senja
Membuat diriku meringis terpesona
Kulewati gubuk kecil rayuan
Di persimpangan yang kian hujan
Kau buka pintu hati rayu
Mempersilakan aku berteduh
Namun, kulihat serpihan kaca
Luka-luka sepanjang sejarah cinta
Juga air mata yang tertunda
Di antara deru dan debu
Kuhirup rasa sayang
Serupa semerbak embun
Menggenangi kelopak bunga asmara
Oh, laki-laki yang mencintai kenangan
Wajah munafikmu adalah angin yang tak lagi dingin
ke dalam benakku ia embus
mengantar senyum dan sorotmu yang teduh.

*Kaisy, lahir dan tinggal di Bunpenang, Dungkek. Saat ini tercatat sebagai siswa kelas XI IPS MA Nasy-atul Muta’allimin, Candi.
Tinggalkan Komentar