Info Sekolah
Sabtu, 30 Mei 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
29 Juli 2024

Resonansi

Sen, 29 Juli 2024 Dibaca 542x

Es Potong – Aeng Mira

Assalamualaikum dan salam kenal bagi yang belum pernah bersua dengan saya. Perkenalkan nama saya Rusydi Anwar atau Salman Rusydie Anwar. Saya alumni Nasy-mut tahun 96-97-an dan merupakan orang biasa yang terbiasa dengan kebiasaan yang biasa-biasa saja. Tak lebih. Saya sangat senang dan antusias sekali menyambut lahirnya website Nasy-mut Media Yayasan Al-Jailani ini dan mudah-mudahan kelak bisa ikut meramaikan konten-kontennya sebagai bentuk silaturrahmi saya dengan para guru-guru saya dan keluarga besar Nasy-mut.

Sebagai awalan dari perkenalan ini, saya ingin sedikit flashback pada masa-masa ketika saya sekolah. Masa-masa dimana yang namanya es potong dan aeng mira begitu ‘viral’ kala itu. Mengapa harus es potong dan aeng mira? Yaa karena itulah jajanan minuman favorit saya sebelum kenal Wall’s, Magnum, Cornetto, Viennetta, Paddle Pop, Glico Wings dan Boba. Wait! Kemana arah pembicaraan ini?

Sederhananya begini. Madrasah kita tercinta ini lahir dari proses sejarah yang sangat panjang. Almarhum KH. Jailani dan beberapa orang yang memiliki niat yang sama kala itu merintis lembaga pendidikan ini setahap demi setahap lengkap dengan tantangan dan hambatan yang harus mereka hadapi. Kalau pun pada akhirnya madrasah ini berdiri megah dan maju seperti sekarang, itu tidak lain karena mereka tidak mengenal istilah putus asa.

Mungkin sama dengan (maaf) saya ketika sekolah dulu. Kalau saya putus asa hanya karena uang saku saya cukup membeli es potong dan aeng mira yang masing-masing seharga Rp.5 itu, tentu saya tidak akan merasakan bahagianya kelulusan di kelas 6 MI dan kelas 3 MTs. Atau justru sebaliknya, karena di dalam tubuh saya mengalir es potong dan aeng mira itulah saya tidak putus asa sampai bisa menyelesaikan sekolah.

Ah, entahlah, bingung. Tapi yang jelas, adanya website ini menghadirkan kegembiraan dan kesegaran tersendiri bagi saya pribadi. Saya gembira karena madrasah, dengan sumber daya manusia dan tenaga pendidiknya yang berkualitas, telah berusaha menjadikan dirinya sebagai lembaga pendidikan modern, yang salah satu indikatornya adalah mampu berperan di era desrupsi yang serba digital seperti sekarang ini.

Pun juga saya katakan ada kesegaran tersendiri dengan hadirnya website ini sebab tidak menutup kemungkinan di laman inilah akan selalu terjadi pertukaran wacana dan pertukaran ide sehingga tercipta dialektika antara mereka yang ‘di dalam’ dan ‘yang di luar’ madrasah. Demikianlah dulu sebagai awalan perkenalan kali ini. Salam es potong – aeng mira, maséya tak apolong noro’ mékkéra. (Guru, Alumni Nasy-mut dan Penulis. Kini tinggal di Yogyakarta)

Artikel Lainnya

Oleh : Ahmad Muchlish Amrin

PENSIL

Oleh : Khozzidatul Ummah, S.Si

Tekstual

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Waalaykum salam.
Salman Rusydi ….!
Ngara lebih nyaman Jogja daripada Dungkek, Sumenep, hingga dengan senang hati meninggalkannya. Padahal, dalam ajaran yang kita pahami, kita disuruh pergi meninggalkan kampung halaman dalam rangka mencari ilmu di tempat yang lain bertujuan agar balik pulang untuk memajukan kampung halaman sendiri dengan ilmu dan pengalamannya. Eh … ternyata kaya “Bang Tayyib” tak datang datang. Parahnya lagi, justru ingin mencukupkan Media Nasymut sebagai sarana silaturrahminya. Seandainya tidak ada pertimbangan “daripada tidak sama sekali”, saya akan mengatakan, “ini belum cukup.”
Akan dilanjut lain waktu.

Tinggalkan Komentar