Info Sekolah
Sabtu, 04 Apr 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
21 Juli 2024

Sempatkan!

Ming, 21 Juli 2024 Dibaca 529x

Apa hendak dikata jika sesuatu yang kita inginkan sudah di depan mata namun terlepas sia-sia? Apa yang tersisa dari sesal yang membuat diri makin tak bermakna?. Yup, kira-kira pertanyaan semacam itulah yang beberapa minggu terakhir setia menunggui saya.

Menghabiskan waktu 16 tahun di bangku pendidikan seharusnya (telah) membuat saya pintar, atau setidaknya tahu terhadap apa-apa yang kudu diketahui dalam kodrat diri sebagai manusia, yang oleh Tuhan dibedakan dari makhluk lain dengan pengetahuan itu pula.

Salah seorang guru mengatakan kepada kami bahwa yang membuat beda antara siswa dan mahasiswa dalah bahwa ‘Siswa sedikit tahu dari hal yang banyak’, sedangkan ‘Mahasiswa tahu banyak dari hal yang sedikit’ dan karena saya (mungkin juga kamu, kalian) telah menjalani 2 posisi itu sekaligus seharusnya sudah ‘tahu banyak dari hal yang banyak’.

Ah, masa bodoh dengan semua itu! Toh, yang lalu takkan terulang kembali. Kesalahan-kesalahan bahwa saya telah melewati masa berharga itu dengan sia-sia setidaknya telah memberi saya pelajaran berharga untuk tidak kembali mengulanginya hari ini, esok dan tidak juga selamanya.

Satu pelajaran penting yang saya tangkap dari sesal kesalahan masa lalu itu, bahwa Tuhan telah memberikan satu nikmat besar yang jarang sekali kita syukuri, yaitu berupa nikmat sempat, yang darinyalah semua kebaikan bermula hingga segala hal tak terlepas sia-sia. Karena kesempatan saja tak cukup tanpa kita menyempatkan diri untuk sempat menikmati kesempatan itu.

Benar sekali jika dikatakan bahwa ‘tak ada yang tidak mungkin kecuali ketidakmungkinan itu sendiri’, sebab ketika semua telah diupaayakan, ketika semua telah kita sempatkan untuk sempat dilakukan, apapun akan dengan mudah terkendalikan. Dengan sempat dan menyempatkan diri kesempatan itu tercipta. Maka istilah tak ada kesempatan dua kali gugur barangkali, jika kita berupaya untuk kembali menciptakan kesempatan itu.

Sangat berlasan pula jika kemudian Tuhan mengajarkan kita untuk tidak beruputus asa, sebab tak ada yang sia-sia dari segala yang dicipta, karena Tuhan telah menciptakan bahagia untuk mereka yang mau kembali berusaha. Yang sulit untuk kita pahami adalah bagaimana menjadikan segala hal sebagai kesempatan yang mesti kita isi, mengisi setiap waktu yang kita miliki sebagai kesempatan berharga agar tidak hilang di telan masa.

Maka bayangkan, jika seorang Thomas Alfa Edison tidak menyempatkan diri untuk menyelasaikan penelitiannya, karya besarnya tidak akan kita nikmati hari ini. Karya-karya besar beberapa tokoh pendahulu yang lahir bahkan dalam kondisi mengekangpun adalah tak lain karena mereka menyempatkan diri untuk menjadikan kesia-siaan itu menjadi sesuatu yang tidak sia-sia.

Kuncinya? Sempatkan!. Hal semudah apapun tanpa kita mengupayakan diri untuk sempat melakukannya tak akan pernah berwujud. Mereka yang lapar, tidaklah akan menjadi kenyang jika tidak menyempatkan diri untuk makan. Mereka yang bodoh takkan berubah menjadi pintar tanpa menyempatkan untuk belajar.

Di sinilah letak kendali diri sangat dibutuhkan. Berupaya memaksa diri untuk sempat melakukan hal sekecil apapun yang memungkinkan, dengan juga menyempatkan untuk berpikir hal yang akan dimunculkan kemudian.

Tulisan inipun tak lain merupakan salah satu upaya saya menyempatkan diri melakukan sesuatu yang pada awalnya hanya berupa angan, menjadi hal yang tak tersia-siakan.

Jangan lupa pula untuk selalu bersyukur, karena Tuhan telah menyempatkan untuk mencipta kita sebagai makhluk yang punya kesempatan untuk melakukan segala apa yang diinginkan. Maka selagi kesempatan masih ada, janganlah sia-siakan. Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah.*Pajagana kantin MTs

Artikel Lainnya

Oleh : Khozzidatul Ummah, S.Si

Tekstual

Oleh : Fathor Rahman, S.Pd

Sehat dengan Membaca

Oleh : Ahmad Muchlish Amrin

PENSIL

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar