
Tanah air pusaka | Indonesia merdeka |
Syukur aku sembahkan |
Ke hadhirat-Mu Tuhan.
Demikian untaian nyanyi cinta tanah air Habib Husien Muthahar, berjudul Syukur seusai Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan negeri tercinta ini. Risalah sejarah melansir secara detail dan terbuka bahwa bangsa Indonesia bukanlah hadiah cuma-cuma dari Jepang dan Belanda, melainkan keringat darah kakek moyang para pejuang, butiran air mata anak bangsa, dan doa terbaik para ulama’.
Para pahlawan mencurahkan kemampuan terbaiknya, dengan semangat bahwa penjajahan di atas bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Tidak boleh ada yang bisa menjadi tuan di negeri kita, tidak boleh ada yang menindas di atas tanah bangsa kita, tidak boleh ada kerja paksa dan tanam paksa di atas tanah kita. Bangsa Indonesia harus merdeka dan maju sesuai hajat hidup manusia Indonesia. Para pejuang dan para pahlawan memberikan ilustrasi cinta tanah air. Mereka berdiri di garda terdepan, dengan prinsip berperang dan bertarung sehancur-hancurnya. Jika menang, namanya akan dijunjung setinggi-tingginya, dan jika kalah akan jadi arang berkalang tanah berlumur peluru dan darah.
Demi membela tanah air pusaka Indonesia, generasi bangsa perlu meneladani semangat perjuangan para pahlawan, perlu serius mencurahkan segenap kemampuan dan kekuatan, dengan segala resiko yang mesti ditanggung dalam genggaman. Seharusnya anak-anak bangsa berani maju dan tampil menjadi manusia berguna bagi bangsa, meskipun dalam konteks terkecil dalam kehidupan sehari-hari maupun konteks yang lebih besar membangun generasi bangsa. Kita harus berani berkumandang sebagaimana Sutardji Calzoum Bachri (Horison, 1998:14), lewat puisi Tanah Air Mata;
Tanah airmata tanah tumpah darahku | Mata air airmata kami | Airmata tanah air kami | Di sinilah kami berdiri | Menyanyikan airmata kami | Di balik gembur subur tanahmu | Kami simpan perih kami | Di balik etalase megah gedung-gedungmu | Kami coba sembunyikan derita kami | Kami coba simpan nestapa | Kami coba kuburkan dukalara | Tapi perih tak bisa sembunyi | ia merebak kemana-mana.
Tanah air pusaka warisan para pahlawan ini adalah air mata; setiap sudut desa maupun kota, gedung-gedung kumuh maupun megah, jalan setapak yang menembus ke jantung kampung, menurut Sutardji menyembunyikan luka masa lalu yang tentu tak bisa dilupakan begitu saja. Meskipun duka itu dicoba diluruhkan sungguh-sungguh, namun perihnya tak dapat ditimbun oleh apa dan siapa.
Tetapi luka sejarah penjajahan di atas bumi Indonesia, tidak kemudian menjadi rintihan hambatan bagi setiap generasi bangsa untuk berbuat. Justru dengan mengingat luka masa lalu menjadi bahan bakar untuk menjunjung langit Indonesia setinggi-tingginya melalui prestasi di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sosial, budaya, olahraga, dan lainnya. Kapten Alqreen dalam film The Last Samurai bersabda, masa lalu jika tidak dilupakan akan menjadi panduan untuk masa depan.
Madrasah Merdeka
Semangat cinta tanah air yang terus menyala dalam garis perjuangan tidak hanya berlumur di kancah nasional. Dalam konteks lokal bahkan dalam ruang lingkup madrasah sekalipun, nilai-nilai perjuangan dapat diterjemahkan, dalam ihwal ini Madrasah Nasy’atul Muta’allimin Candi. Mencintai dan merawat dengan baik Madrasah Nasy’atul Muta’allimin Candi adalah bagian dari cinta tanah air. Tentu, tanah air yang menurut para pejuang kemerdekaan adalah hal yang sakral.
Madrasah merupakan konsep pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan keilmuan berbasis pengajaran, tetapi di dalamnya didapuk ahwal akhlaqul karimah dan adab menjadi pondasi dasar ilmu pengetahuan. Sebab tidak sedikit manusia kita yang secara keilmuan dan kecerdasan berada di level atas, namun secara akhlak dan adab jadi gagal paham. Great point pendidikan Madrasah merdeka adalah apabila mampu menghasilkan generasi bangsa yang maju secara ilmu pengetahuan, akhlak, dan berkeadaban yang pada gilirannya madrasah memiliki sumbangsih bagi berlangsungnya Indonesia merdeka secara de facto dan de jure.
Setidaknya terdapat tiga gambaran bahwa kita dapat disebut mencintai tanah air melalui pintu madrasah Nasy’atul Muta’allimin merdeka ini. Pertama , Meneladani semangat perjuangan para pahlawan Nasional dan para pahlawan pejuang Madrasah terbaik ini. Kita memprofiling atau mengidentifikasi karakteristik perjuangan mereka, langkah-langkah strategis yang menjadi landasan perjuangan, serta goal yang ingin dicapai oleh para pejuang. Artinya aksi cinta tanah air yang kita lakukan tetap selurus pita uang para pahlawan. Internalisasi itu dapat meniupkan ruh perjuangan dalam ruh-ruh generasi dari waktu ke waktu. Nilai-nilai yang dicontohkan para pejuang kita dapat menyelamatkan dari apa yang dikhawatirkan oleh Ir. Soekarno, “saya tidak khawatir bangsa kita dijajah kembali oleh bangsa lain, tetapi yang saya khawatirkan bangsa ini dijajah oleh saudara bangsa kita sendiri,”.
Kedua , Mengedepankan persamaan dari pada perbedaan. Sudah tiba waktunya anak-anak bangsa yang cerdas dan luwes berpikir perihal kemajuan, dari pada terjebak dalam debat kusir perbedaan yang tiada akhir. Meminimalisir konflik internal lebih baik.
Poin ini tidak dapat diartikan sebagai anti kritik, melainkan waspada atas soal-soal sensitif yang dapat menimbulkan perpecahan secara internal. Jika waktu hanya dihabiskan untuk saling sikat pendapat, mencari “menang”, orang lain seolah-olah kurang benar, sementara diri sendiri seolah paling benar, tentu hal itu hanya menghabiskan waktu; yang seharusnya bisa berpikir visi kemajuan, waktu jadi habis dalam durjana permusuhan dan konflik internal.
Madrasah kita jangan sampai punya “kebiasaan” sebagaimana kebiasaan madrasah di beberapa kota di Indonesia Timur: apabila ada orang yang berpotensi bagus, diapresiasi setinggi-tingginya, diberi tugas yang bisa jadi sampai over kapasitas, tetapi bila tidak sesuai dengan mandat yang diberikan akan menjadi bahan gunjingan, bahkan bisa jadi yang bersangkutan “disingkirkan”, seolah-olah ia tidak pernah berbuat atau berjasa. Tentu sikap tersebut belum sesuai dengan nilai perikeadilan dan perikemanusiaan sebagai ruh-ruh cinta tanah air.
Madrasah Nasy’atul Muta’allimin Candi harus memberi contoh terbaik sebagai madrasah yang merdeka dari sentimen pribadi dan sentimen kelembagaan. Sentimen kelembagaan yang tentu kaitannya dengan lembaga lain; sentimentalisme harus dihapuskan dari atas bumi karena tidak mencerminkan nilai-nilai madrasah merdeka.
Berjuang di Madrasah bukan zamannya lagi mengedepankan bahwa si A alumni pondok ini, si B alumni kampus itu, menjadikan madrasah dalam bahasa Bordeu (1970:65) sebagai arena melancarkan sentimentalitas identitas. Seharusnya begitu berjuang di Madrasah, identitas kita adalah identitas Madrasah merdeka kita, warna kita adalah warna madrasah kita, goal tujuan kita adalah kepentingan madrasah kita. Itulah dan hanya itulah kita bisa melebur dan berinteraksi dalam proses mengantarkan madrasah dalam riuhnya peradaban dunia yang gegap gempita.
Ketiga , Menguatkan tirakat perjuangan. Para pejuang nasional mampu merebut bangsa Indonesia ini tentu tidak hanya mereka punya otot kuat dan _soghe’, secara fisik. Di luar itu, mereka melakukan tirakat suci sebagai tarekat kemerdekaan yang dibimbing para ulama’. Salah satu contoh adalah kata “Allahu Akbar!” yang dipekikkan bung Tomo dalam perjuangan Arek Suroboyo di Surabaya merupakan ijazah dari KH. Hasyim Asy’arie. Sehingga dengan satu keccap kata, bisa membakar semangat para pejuang dari seluruh penjuru, yang salah satunya datang dari desa Candi, yaitu Alm. Ke Gampang (Ayahanda dari Alm.Rama Saleh, mantan Kepala Desa Candi).
Tirakat perjuangan dalam pendidikan Madrasah juga penting direalisasikan, agar out put madrasah sesuai yang diharapkan. Alunannya tidak sulit pun juga tidak mudah, diantaranya; (1). Guru memberikan teladan yang baik terhadap murid (uswatun hasanah), dalam sikap dan ucapan. (2). Murid harus tunduk dan patuh terhadap guru, mengikuti dengan baik program yang telah dicanangkan oleh Madrasah. (3). Orang tua wajib mendukung penuh program guru atau Madrasah serta memfasilitasi segala keperluan putra-putrinya. Dan yang lebih penting orang tua selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya serta dilarang baper atau tersinggungan. Ingat! Dalam konsep pendidikan yang mengeluarkan raport (yang berhak menilai) hanya guru, murid dan orang tua dilarang menilai guru.
Entitas-entitas penting di atas merupakan bahan renungan kita bersama, dalam rangka cinta tanah air bangsa melalui pintu gerbang madrasah merdeka; Merdeka dari keterbelakangan. Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari qalil adab. Merdeka dari krisis akhlak. Merdeka dari kemiskinan. Merdeka dari konflik. Merdeka dari kesedihan.
Akhirnya, seperti Habib Husien Muthahar, marilah kita bersyukur bersama-sama;
Dari yakinku teguh
hati ikhlasku penuh
akan karuniamu.
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
ke Hadhirat-Mu Tuhan.
Yogyakarta, 31 Juli 2024
Tinggalkan Komentar