
Dasawarsa belakangan ini, buku seakan hanya tumpukan kertas yang tak berarti apa-apa. Bahkan slogan “tiada hari tampa membaca” yang terpampang di tempat-tempat umum ibarat hiasan semata. Banyak dari kita beranggapan bahwa buku adalah benda mati. Sehingga berolahraga, bepergian, menonton televisi dan bermaian play station adalah kegiatan yang digemari banyak orang. Utamanya anak-anak.
Ketika ditanya apakah anda biasa membaca buku? Jawaban yang kerap kita dengar “kadang-kadang” atau “ketika sempat”. Tak berlebihan bilamana fakta berbicara, kebiasaan membaca anak di bawah rata-rata. Bahkan berdasarkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh beberapa lembaga, bahwa anak Indonesia berada di paling buncit dalam urusan membaca.
Seharusnya kita harus malu pada negara tetangga. Di Jepang misalnya, sekolah-sekolah mewajibkan siswanya untuk membaca buku 10 menit sebelum melakukan aktivitas belajar mengajar.
Uraian memilukan tentang fakta-fakta yang kurang menggembirakan tentang budaya baca kita ternyata masih dianggap problem enteng dan biasa-biasa saja. Padahal, secara tidak langsung hal di atas telah menggambarkan kalau bangsa ini tidak lagi memiliki daya saing yang cukup bertaring di banding dengan negara-negara lain. Kita sudah kehilangan peradaban. Tak pelak jika Indonesia sering dihujat oleh bangsanya sendiri.
Kenapa Indonesia yang dulu menjadi sebuah negara yang begitu disegani tiba-tiba menjadi negara bebek; tak bertenaga? Jawabannya, sumber daya manusia (SDM) yang ada hanya ibarat boneka, tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau dulu, negara tetangga belajar banyak terhadap negara kita, tetapi sekarang berbalik 180 derajat.
Jika boleh saya ajukan alasan, kita lebih menghargai otot daripada otak. Padahal, menurut Imam Al-Ghazali “memaksimalkan akal untuk proses berpikir lebih bernilai daripada beribadah seribu tahun”.
Mari kita tumbuhkan budaya baca bagi anak sejak dini. Minimal budaya itu dimulai dari keluarga. Misal saat anak-anak pulang sekolah, mereka tidak lagi bertemu dengan televisi, game maupun mainan-mainan yang tidak sehat. Kemudian di sekolah. Para guru bisa meniru cara orang Jepang untuk menggugah budaya baca siswanya; mewajibkan kepada mereka untuk membaca buku 10 menit sebelum melakukan aktivitas belajar. Selain guru, tak kalah penting menciptakan ruang publik kreatif bagi siswa. Mungkin perpus yang representatif yang bisa membuat mereka nyaman, aman dan menyenangkan.
Itulah mungkin langkah sederhana. Arahkan anak kepada budaya-budaya yang lebih sehat dan mencerdaskan, agar mereka jauh dari budaya “foya-foya”. Sehingga, kegiatan membaca tidak lagi jadi kegiatan kelas dua. Karena meminjam bahasanya Yudi Latief, “Kehormatan orang terpelajar berasal dari buku”.
Tinggalkan Komentar