
Secara kognitif, kita cukup berbangga karena pendidikan telah melahirkan generasi-generasi hebat. Ada yang ahli robot, mesin, astronom, ekonom, politikus, dokter hingga perangkai bom. Namun, pada waktu bersamaan, pendidikan juga telah melahirkan generasi yang angkuh, egois, kurang peka dan keras kepala.
Harus diakui, sejak dulu kita memang belum diajari memahami, tetapi diajari mendikte dan mendifinisi teori, anak-anak hanya jago menghapal kata perkata, saat ulangan, mereka dituntut persis dengan buku. Sehingga, hidden curiculum menjadi terlupakan. Oritensinya tekstual, bukan kontekstual. Generasi kita pun menjadi bengal. Akhirnya terjadi alienasi mental.
Ragam pemangangan kurang mengenakkan yang kerap terjadi dewasa ini. Semisal beberapa aksi foto selfie siswa harus memamerkan bagian sensitif hanya karena ingin disebut modern, tak masalah walau dia berasal dari desa atau kota, yang penting bisa menirukan gaya para artis idola.
Hal serupa juga terjadi pada jagad hiburan tanah air. Kita lihat, beberapa sajian program televisi yang hampir serupa. Hanya ingin meroketkan rating, nyaris semua program televisi tak jauh berbeda. Menyajikan guyonan, infotainment, memamerkan kekerasan, hingga menawarkan sensasi.
Tanpa sadar, publik terpukau dan menirukan apa-apa yang telah ditawarkan televisi. Tak peduli walau keluar dari identitas diri. Rambut dikepang, disemir, hingga telinga dan hidung beranting. Tentu, ini bukan antara salah dan benar, dosa atau tidak, tetapi tentang ketepatan berperilaku dalam kehidupan sosial, karena kita diwarisi budaya dan kearifan lokal.
Kasus lain tentang banyak guru yang dilaporkan ke polisi gara-gara murid sakit hati kena sanksi. Bahkan tak jarang, guru jadi korban dari kebengalan mereka. Padahal tempo dulu, jika murid ditegur, orang tua bersyukur.
Inilah dampak dari pendidikan tekstual yang kita terapkan sejak zaman kolonisl. Ternyata pendidikan kita belum mampu menyentuh sisi “budi” anak didik kita.
Yang paling kronis adalah kasus SARA. Anak-anak mulai belajar mengumpat dan berani mencela hanya karena berbeda. Seringkali intolerensi menjadi biang kerok dari kegaduhan yang terjadi. Padahal Indonesia adalah negara yang damai, santun dan jauh dari disintegrasi. Lalu, kenapa belum bisa menghargai sesama?
Kasus lain yang mencengangkan publik saat dua pria menyerobot masuk ke dalam ruang kelas lalu menghampiri salah guru SMA di Nusa Tenggara Timur, Damianus Dolu. Secara membabi buta sembari meneriakkan kata-kata makian, dua orang itu menyerangnya. Disaksikan puluhan muridnya, ia terus dipukuli, lalu diseret ke halaman sekolah. Ia hanya bisa pasrah, karena tak berdaya. Padahal ia hanya menegur sambil tepuk bahunya.
Kasus ini menandakan bahwa sudah saatnya anak tak sekolah dipasrahkan ke sekolah. Sekolah itu rumah kedua. Tempat budaya pertama mereka belajar budi pekerti adalah di rumah. Sebab di era yang serba tak menentu ini, peran orang tua sangat berarti. (Waka Kurikulum MTs Nasy-mut dan Ketua Ranting Fatayat NU Candi)
Tinggalkan Komentar