Info Sekolah
Sabtu, 30 Mei 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
23 September 2024

“FLASHBACK” – Cerpen Alifa M

Sen, 23 September 2024 Dibaca 497x Cerpen / Karya Siswa

Bumantara gelap gulita. Sang rembulan dan miliaran bintang yang biasa menyertainya, entah di mana bersembunyi malam ini. Sepoi angin menelusup ke pori-pori, menyusupkan hawa dingin ke sekujur tubuh. Kuelus pelan kulitku yang seakan nyaris beku di balik balutan gamis berwarna coksu dengan hijab motif ukuran sedang.

Kunikmati swastamita kali ini dari sebuah tempat duduk yang letaknya tak jauh dari ndalem Kiai dan Ibu Nyai. Pada setiap tarikan dan embusan napas kurasakan ketenangan menyelinap di antara cekikikan santri yang tengah bercanda ria.

Memori empat tahun lalu tiba-tiba melintas kembali dalam ingatan, tepatnya tanggal 24 November 2020. Sudut bibirku terangkat membentuk sebuah lengkungan indah saat mengingat seseorang yang tersimpan abadi di tanggal itu. Sehari setelah ulang tahunku yang ke-14.

Flashback on:

Bel pulang sudah berbunyi beberapa menit lalu. Namun, aku masih dicegat El dan Aul di koridor. Tepat di depan mading sekolah. Entah untuk apa mereka melarangku pulang padahal sekolah sudah mulai sepi.

Aku menoleh ke sana kemari mencari seseorang yang biasanya berada di tempat duduk dekat mading. Jika ditanya mengapa, alasanya pasti untuk menunggu temannya yang kebetulan sekelas denganku. Namun, kali ini ia tak terlihat. Ke mana ia pergi?

Walaupun ia sekelas dengan El dan Aul, aku tak berani menanyakannya. Aku tak ingin mereka tahu akan hal yang aku sembunyikan selama ini.

“Lagi cari apa sih, Al?” Tanya Aul saat menyadari pandanganku tak terlepas dari tempat duduk yang ada di dekat mading.

Nggak kok, hehe,” jawabku cengengesan.

Yaudah! Ikut yuk, Al.” Ajak El sembari meraih pergelangan tanganku.

“Ke mana, El?” Tanyaku.

“Ke kelas doang, Al. Ambil tas, terus pulang.” Jelas El meyakinkan dan langsung menarikku.

Saat kami sudah berada tak jauh dari kelas El, tiba-tiba El menghentikan langkahnya. Aku pun ikut berhenti dan tak sengaja melihat pintu yang sudah tertutup rapat.

“Ayo, El!” Ujarku yang hanya dibalas anggukan oleh El.

Aku melanjutkan langkah lagi dengan mendahului El yang kini berada di belakangku. Saat tiba di depan kelas, aku dibuat kaget oleh pintu yang tiba-tiba terbuka. Sedangkan El hanya tersenyum seolah ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Benar saja, seseorang muncul dari balik pintu. Aku tertegun. Jantungku bergitu berdebar-debar.

“Lo, kok dia ada di sini?” Tanyaku dalam hati.

Balon berwarna-warni dan sebuah kotak yang sudah terhias indah di tangannya sudah cukup membuatku mampu menebak jawabannya.

Happy birthday!” Ucapnya tanpa ekspresi, tetapi netranya menatapku begitu dalam.

Tak ada yang dapat kulakukan selain tersenyum tulus untuk menggambarkan kebahagiaan ini. Hal yang tak pernah terbesit dalam benakku sebelumnya. Ia juga ikut tersenyum manis, sangat manis. Benar-benar indah seperti senja.

“Makasih!” Ucapku salting seraya menerima hadiah darinya.

Gurat senyum di bibir indahnya serta tatapannya yang begitu dalam membuatku yakin  bahwa ia tak akan pernah hilang dari hidupku. Kehadirannya adalah hadiah terindah di ulang tahunku kali ini.

“Hem…”

“Ciee…”

Tiba-tiba terdengar suara dehaman dan sorakan dari belakang. Setelah kupastikan pelakunya ternyata mereka adalah teman-temanku, termasuk El dan Aul. Aku yakin merekalah dalang semua ini. Entah dari mana mereka tahu akan hal yang aku dan dia sembunyikan selama ini. Namun aku benar-benar merasa beruntung dengan kehadiran mereka, manusia-manusia spesial yang Tuhan kirimkan untuk mewarnai hidupku.

Flashback off

“Mbak, Al!”

Suara yang entah berasal dari sudut mana membuatku terperanjat. Aku pun menoleh mencari sang pemilik suara. Ternyata itu Lia, temanku. Ia tengah berdiri melihat ke arahku.

“Mbak kok senyum-senyum sendiri, sih?” Tanya Lia yang kini sudah duduk tepat di sampingku.

“Ih. Emang gitu, ya?” Tanyaku tak percaya dan hanya dibalas anggukan oleh Lia.

“Mbak cuma inget seseorang, Lia.” Ungkapku jujur dengan senyum yang masih belum luntur.

“Hmm… ciapa ciii?” Tanya Lia sok cute.

“Kepo, ya?” Sahutku tengil.

Lia tampak sedikit kesal dengan jawabanku. Ia menunjukkan wajah cemberut. Aku pun hanya menahan tawa melihat tingkah konyol Lia itu.

Sebenarnya bukan tidak ingin memberitahu Lia tentang kisah ini. Aku pikir tak pantas rasanya menceritakan kisah yang telah lama berlalu. Meskipun kenyatanya malam ini aku benar-benar tenggelam dalam kenangan manis kala itu.

Sejujurnya, agak menggelikan juga apabila mengingat kembali kisah itu. Barangkali begitulah yang disebut cinta monyet. Sesekali akan timbul-tenggelam dalam ingatan; dalam rasa candu dan kerinduan.

Walaupun pada akhirnya ia menjadi sebuah kata ‘kenang’, tapi aku ingin ia tetap hidup di sini, di dalam tulisan ini.

28 Agustus 2024
Karangcempaka, Bluto

Alifatul Muvidah lahir tanggal 23 November 2006. Ia tinggal di Banuaju Timur dan tercatat sebagai alumnus Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Candi.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar