
Langit begitu biru dan awan putih bersih serupa seragam putih abu-abu yang Cahya kenakan. Hari itu cuaca memang sedang cerah dan indah. Secerah dan seindah suasana hati Cahya.
Cahya teramat senang dengan lingkungan sekolah barunya. Ia pun selalu bersemangat melalui masa-masa awal sekolah menengah atasnya. Ia bertemu banyak teman baru yang begitu mudah akrab, di antaranya ialah Tiara. Setidaknya untuk saat ini, Tiara adalah teman yang paling dekat dengan Cahya, tidak hanya karena sekelas, tapi juga karena mereka duduk sebangku.
“Ke kantin, yuk!” ajak Cahya kepada Tiara seusai jam pelajaran pertama.
“Ayok. Udah laper banget nih,” jawab Tiara menyetujui.
Sambil mengobrol mereka berdua pun berjalan di lorong paving menuju kantin. Sebagai teman baru, mereka saling berbagi cerita mengenai hal-hal yang mungkin belum diketahui satu sama lain, mulai dari pelajaran hingga sesuatu yang mafhum digemari anak-anak seusia mereka.
“Hai… cewek.”
Cahya dan Tiara kaget karena tiba-tiba ada yang memanggil dan sepertinya tengah mau menggoda mereka. Mereka berdua pun menoleh untuk memastikan. Ternyata Ale, siswa kelas XII.
“Ih, najis. Kegatelan banget jadi cowok,” bisik Tiara risih.
“Kok gitu sih. Mending Cahya ikut gue nanti tak belikan es krim,” goda Ale.
“Noh, tong sampah ajah lo belikan es krim,” jawab Tiara kesal.
“Apa? Ikut kamu? Ajak itu tu kali mau.” Cahya yang mulai dongkol turut menimpali sambil menunjuk tong sampah di pojokan.
Cahya dan Tiara buru-buru meninggalkan Ale lalu menuju kantin dengan perasaan kesal dan jengkel.
***
KRING…!!!
Bunyi bel masuk kelas membuyarkan obrolan Cahya dan Tiara tentang lelaki bernama Ale. Mereka segera beranjak dari kantin menuju kelas. Jam pelajaran pun kembali dimulai.
“Tiara, si Ale emang gitu ya sama perempuan, kayak gak punyak sopan santun,” gumam Cahya yang masih sebel.
“Kata kakak kelas, dia cowok paling wow di sekolah ini,” jawab Tiara singkat.
“Ha, paling wow? Cowok kegatelan kayak dia dibilang paling wow, apa gak salah denger nih?” tanya Cahya heran.
“Entahlah.”
“He, ini jam pelajaran, bukan jam ngegosip. Udah-udah, silakan ini tulis. Lima belas menit setor,” tegur Pak Yudi, guru matematika.
Jam pelajaran terakhir pun usai. Para siswa dengan sukaria berhamburan, berlarian keluar kelas. Ada yang langsung pulang, ada pula yang masih menunggu jemputan. Ada yang pulang membawa kendaraan, ada pula yang berjalan. Ada yang pulang berbarengan, ada pula yang sendirian. Masa sekolah memang selalu menjadi masa-masa menyenangkan, baik saat masih dijalankan maupun untuk dikenang dan dirindukan di masa-masa akan datang.
“Cahya, aku duluan, ya. Kamu belum dijemput?” ucap Tiara sembari bergegas menuju gerbang sekolah.
“Enggak, aku jalan kaki saja. Lagian rumahku kan dekat.”
“Oke, Bye…”
***
Sesampai di rumah Cahya langsung menyandarkan punggungnya di sofa. Ia menggerutu karena masih jengkel dengan kejadian di sekolah waktu jam istirahat tadi. Ia berpikir, mengapa hampir semua laki-laki selalu melakukan cat calling pada perempuan. Bukankah harusnya setiap laki-laki menghormati perempuan karena mereka juga dilahirkan oleh seorang perempuan?
“Apa sih, Dik?” Niela menyahut dari balik pintu kamarnya.
“Hehe… Ini rumah kayak gak ada penghuninya. Sepi banget.”
“Ngadi-ngadi kamu. Baru datang bukannya ucap salam malah ngedumel. Mending ganti baju dulu, mandi, terus makan.”
“Siap, Kakak,” jawab Cahya sembari pergi setengah berlari ke kamarnya.
Di malam hari, setelah salat Isya, Cahya selalu menyempatkan diri untuk belajar, baik ada pekerjaan rumah (PR) maupun tidak. Ia akan mengulang beberapa pelajaran yang telah diajarakan di sekolah pagi harinya. Selain itu, ia juga membaca buku-buku pelajaran yang akan dipelajari esok harinya. Karena itu, tak heran apabila di sekolah Cahya dikenal sebagai siswa yang tergolong pintar.
Mungkin Cahya tidak seperti kebanyakan anak seusianya di mana malam hari justru lebih sibuk menye-scroll Tiktok. Ia hanya bermain handphone 20-30 menit sebelum tidur. Tapi malam itu, saat Cahya nyaris tidak dapat menahan kantuknya lagi, ia dikagetkan dengan satu telepon masuk. Ketika ia lihat ternyata nomor baru.
“Halo, dengan siap,” tanya Cahya.
“Ini Cahya, kan?” terdengar suara lelaki bertanya dari balik telepon.
“Sorry, aku Ale. Tahu, kan?”
“Ooo.”
“Cuek amat, Neng…” karena tidak mendapat jawaban Ale berusaha kembali bertanya, “Halo, apa ada orang di sana? Halo?”
Cahya hanya diam membiarkan cahayanya susut ke ceruk malam.
19 Januari 2025
Taman Sare, Dungkek

Ana Kamilia Hasanah lahir tanggal 06 Maret 2011. Ia tinggal di Taman Sare dan tercatat sebagai siswa MTs Nasy-atul Muta’allimin dan santri Pondok Pesantren Bhakti Rantani , Candi.
Tinggalkan Komentar