
JERANGKONG DALAM LEMARI
Dengan menyandang anak kunci
Kau buka pintu kantormu
Mewah dan menakjubkan
Namun sayang
Tuan tidak sadar
Apa saja yang di hadapanmu
Engkau gilas
Kepandaianmu hanya menjilat pantat
Sadarlah, Tuan Yang Terhormat
Bahwa semuanya
Tak kan kau bawa ke liang lahat
Dengan menutup ruang kerjamu
Kau selipkan ball poin
Untuk menambahkan nol di belakang koma
Hidupmu telah terbungkus rapi
Oleh jaring laba-laba
Penuh bayang misteri
Kata orang, tuan adalah terhormat
Tapi aku
Melihat diri tuan
Bagaikan jerangkong yang berdasi
Sambil menjinjing tas exclusive
Tuan…
Tuan harus iling
Karena pintu tobat masih terbuka
Kalau tidak, Tuan akan menyesal
–
–
KISAH SETANGKAI MAWAR
Api menjadi bara
Bara menjadi debu
Mawar indah yang setangkai
Kini tercampak dalam pelimbahan
Sementera keriangan,
Tak pernah bersekutu dengan takdir
Hanya kegagalan bertiup lirih
Menerpa jiwa yang sedang lena
Sejuta kisah kasih asmara
Tak mampu menunas
Dalam sepaket senyum (bahagia)
Kata-kata pujangga
Tak mampu menyejukkan hati
Karena kejujuran telah ternodai
Kata bermadu tapi berbisa
Membuat nurani kejang
Dalam pedih
Dalam perih
Yang menyengat
Dasar kau pengkhianat Selamat kau kulaknat…!
–
–
SATU MALAM DI SEBUAH NIGHT CLUB
Malam semakin kelam
Bagai rangkaian kerudung hitam
Tak bertepi
Gedung-gedung pencakar langit
Menjulang dengan angkuhnya
Seakan menantang zaman
Kota besar bagaikan hamparan beton
Yang tak pernah tidur
Di sana hidup manusia
Dengan aneka ragam tingkatan sosialnya
Sungguh hati terasa perih
Saat kusaksikan night club
Berdiri megah
Dengan warna-warna lampu
Yang menggiring
Hati manusia yang gampang tergoda
Mereka terlena
Dalam kepulan asap rokok
Serta minuman yang memabukkan
Namun ingatlah
Wahai mansia terkutuk
Jika kalian mendapatkan kebahagiaan
Dalam gelas minuman
Maka bersiaplah
Menanggung penderitaan di atas ranjang Camkan itu baik-baik…!
–
–
DESAH ILALANG
Seuntai harapan yang kubawa
ternyata harus terkubur bersama luka
karena deraian air mata
tak lagi menjelma permata
seembun kasih yang kudamba
tak selebih hanyalah salju
di muslim kemarau
yang sebentar hancur dan melebur
ditindih cahaya matahari
kucoba melangkah,
walaupun tak tentu arah
hanya desah ilalang yang basah
yang turut resah,
di kala batin ini mendesah
ingin aku raup
rona jingga pelangi kasih
yang menggantung
dibatas cakrawala
Namun,
jiwaku merintih, lirih
lantaran sukmaku terpenjara tanpa jendela
Dan impianku harus menepi di antara jeruji hati
yang sempit menjepit
benih ketabahan dan kesetiaan yang kutanam
ternyata…
harus berdasar di atas batu
sedang yang tersisa…
Kini…
hanyalah sembilu mengiris kalbu
yang membuatku:
terisak pilu
–
–
ANALISIS PESONA
Pada sekilas pesonamu
menciptakan pelangi sarat warna
tangan-tangan cahaya
memergoki kealfaan
dalam gelap nan pekat
Inikah keindahan?
Atau lembaran kisah mimpi?
Ataukah sebuah muslihat ?
Lantas,
bagaimanakah aku membedakannya?
sedang yang aku tahu,
keindahan sering melahirkan cinta
dan mimpi hanya bagi mereka yang tidur
sedang muslihat
hanya bagi mereka yang pengecut
hingga takut hadapi kenyataan
Ah… aku bingung.
seingatku baru kali ini kita bertemu
Namun, semua itu tak penting buatku
Ketahuilah…
karena pesonamu
menciptakan pelukan matahari
bersinar lembut dalam hatiku semoga semua ini tidaklah semu

*) Norman, M.Pd.I., alumnus PP Nurul Islam, Karang Cempaka, Bluto. Saat ini, ia mengajar sosiologi di MA Nasy-atul Muta’allimin, Candi, Dungkek.
Tinggalkan Komentar