Info Sekolah
Sabtu, 30 Mei 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
13 Februari 2025

Pesan Imam Syafi’i kepada Gen Z

Kam, 13 Februari 2025 Dibaca 459x

“Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan”– Imam Syafi’i

Untai kata di atas sering kali muncul di berbagai tempat; di poster seminar motivasi, di halaman pembuka sebuah buku, hingga berbagai unggahan media sosial yang dilengkapi latar belakang langit senja. Kadang, kata-kata dari Syaikhul Islam tersebut telah menjelma mural yang terpacak gagah di tembok sekolah. Seseorang yang berulang kali dirundung keisengan—dengan sebuah cat semprot—juga telah menuliskannya di pagar baja sebuah pabrik.

Kita mungkin membacanya, mengangguk, lalu berdecak kagum sebelum akhirnya tergerak untuk menekan tombol share, menambah kutipan bijak itu ke dalam daftar panjang koleksi quotes di SW (Status WhatsApp) atau SG (Snapgram). 24 jam kemudian, kata-kata itu hilang sama sekali. Tak ada jejaknya dalam keseharian kita, kecuali sebagai dekorasi dalam linimasa yang terus bergerak.

Imam Syafi’i tak menulis kata-kata itu untuk sekadar dikagumi. Ia bukan hanya kalimat puitis atau sejenis opium yang dapat membuat pembacanya candu untuk mendarasnya berulang-ulang hingga sempoyongan. Seyogyanya, ia adalah peringatan sekaligus tantangan bagi siapa saja yang ingin memahami dunia dan keluar dari ngarai ketidaktahuan.

Belajar tentu saja tidak terlimitasi ruang dan waktu. Setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru, begitulah kata Ki Hajar Dewantara. Belajar merupakan salah satu kewajiban sepanjang hayat yang diemban umat manusia. Hal ini juga sebagai pengejawantahan atas tujuan diciptakannya manusia di muka bumi, yaitu sebagai khalifah—penebar kebermanfaatan. Jika tidak, maka eksistensi manusia justru akan menjadi sumber keculasan dan pengrusakan (Lihat Surah Al-Baqarah: 30-36).

Namun, masih banyak dari kita meletakkan aktivitas belajar dalam batasan institusi formal (sekolah) semata. Belajar dipahami tak lebih dari sekadar kepatuhan administratif dan kemampuan menjawab soal-soal ujian. Pemeringkatan (ranking) dan penominasian sering kali tampak gagah dan menyilaukan ketimbang intelektualitas sebagai orientasi dari belajar itu sendiri. Oleh karena itu, sekolah dianggap sesuatu yang harus segera diselesaikan agar bisa melangkah menuju hal-hal yang dianggap lebih serius dan konkret: pekerjaan, status sosial, serta pencapaian-pencapaian materiel yang bisa dipamerkan.

Kecanggihan teknologi informasi berbasis internet memang telah memungkinkan semua orang mengakses berbagai pengetahuan di mana pun dan kapan pun. Informasi datang dengan kecepatan yang tidak pernah terbayangkan umat manusia sebelumnya. Hampir semua jawaban yang kita butuhkan atas suatu pertanyaan bisa ditemukan dalam hitungan detik. Sesuatu yang dahulu harus dicari dengan susah payah kini muncul dengan sekali klik atau sekali tap di layar gawai kita.

Google telah menggantikan ensiklopedia, TikTok telah menjelma ruang kelas baru, dan bahkan Shopee dan platform marketplace lainnya telah menggeser peran pasar-pasar konvensional, membawa manfaat sekaligus tantangan baru. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kita bisa menjadi “pakar”  dari berbagai topik. Cukup dengan membaca headline atau menonton video berdurasi satu sampai tiga menit saja.

Di balik itu semua kita menghadapi paradoks baru. Semakin mudah kita mengakses informasi, semakin dangkal pula pemahaman yang kita dapatkan. Kita membaca sekilas tanpa benar-benar memahami. Kita mengutip teori, tapi tidak mengerti konteksnya. Kita menghafal data, tapi tidak tahu bagaimana menghubungkannya dengan kenyataan.

Di tengah derasnya arus informasi, banyak dari kita yang merasa tahu segalanya, padahal sesungguhnya hanya mengapung di permukaan. Semakin mudah kita mengakses pengetahuan, semakin kita berisiko kehilangan kesempatan untuk berefleksi dan berpikir kritis. Kita terjerumus ke dasar jurang algoritma, dipaksa mengonsumsi segala sesuatu yang bahkan tidak ada relevansinya dengan hidup yang kita jalani.

Fenomena ini menciptakan budaya baru, pemujaan terhadap citra. Apa saja yang tampak di layar gawai dianggap realitas yang sesungguhnya. Tidak sedikit di antara kita betul-betul tak berdaya di hadapan media sosial, terjebak rasa cemas dan ketakutan—takut dianggap kudet, takut dikira tidak ngehits, takut tertinggal dari arus eksistensi digital. Ketakutan-ketakutan semu yang bermuara pada satu hal: hasrat untuk show off di media sosial. Benarlah senandung Iwan Fals dalam “Seperti Matahari”: keinginan adalah sumber penderitaan. Tempatnya di dalam pikiran.

Strawberry generation—istilah yang kerap disematkan kepada milenial dan Gen Z—lahir dari kondisi dan situasi semacam ini. Generasi ini tampak mengilap dari luar, penuh percaya diri dan inovatif, tetapi rapuh dan mudah hancur ketika menghadapi tekanan. Mengapa demikian? Salah satu penyebab utamanya ialah ketidakmampuan menyaring masifnya informasi yang diperoleh saat berselancar di media sosial. Tanpa filterisasi, mereka dihantam ekspektasi demi ekspektasi yang tak mungkin direngkuh dalam sekejap. Segalanya ingin dicapai dengan cepat, instan, tanpa proses, tanpa perjuangan.

Di hadapan realitas ini, pesan Imam Syafi’i menemukan relevansinya yang paling mendalam. Kebodohan bukan hanya berarti tidak tahu, tetapi juga ketika kita menganggap diri sudah cukup tahu, padahal pemahaman kita masih rapuh dan serba dangkal. Jika kita tak sanggup menahan lelahnya belajar—proses panjang yang melelahkan, yang menuntut refleksi, ketekunan, dan kesabaran—maka kita harus bersiap menghadapi perihnya ketidaktahuan.

Di era ini pula kebodohan memiliki wajah baru. Kebodohan bukan lagi sekadar ketiadaan pengetahuan, tetapi juga kelengahan dalam berpikir, kemalasan dalam menyelami kedalaman, serta ketidakmampuan memilah mana yang benar-benar esensial dalam hidup.

Akses terhadap ilmu memang semakin luas, tetapi tantangan yang lebih mendesak adalah ketahanan untuk menempuh perjalanan panjang dalam memahaminya. Bukan tentang siapa yang dapat belajar dengan cepat, melainkan siapa yang mampu belajar dengan tekun dan penuh kesabaran. Bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa dihafal, tetapi seberapa dalam akal budi dapat menalar dan memaknai. Belajar bukan sekadar upaya mengesankan orang lain dengan deretan prestasi dan akumulasi pengetahuan. Belajar adalah perjalanan sunyi, sebuah lorong panjang yang menuntun seseorang menuju kebijaksanaan. Jalan itu tidak akan pernah mudah. Jika kita tak mampu bertahan, yang hilang bukan hanya ilmu—tetapi juga diri kita sendiri.

Mohammad Ali Tsabit, Pimpinan Redaksi Nasymut Media. Saat ini tengah menyelesaikan studi magister Studi Agama-Agama di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Artikel Lainnya

Oleh : Fathor Rahman, S.Pd

Sehat dengan Membaca

Oleh : Salman Rusydie

Resonansi

Oleh : Ahmad Muchlish Amrin

PENSIL

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar