Info Sekolah
Sabtu, 04 Apr 2026
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
  • Nasymut Media menerima karya dari guru, siswa, hingga alumni berbentuk opini, esai, puisi, cerpen, cerbung, pantun, dll. Karya bisa dikirimkan lewat email atau nomor WhatsApp yang terterta | Karya yang masuk akan mendapatkan sovenir
21 Juli 2024

“Berani” Malu

Ming, 21 Juli 2024 Dibaca 490x

Seorang teman dosen berkisah tentang mahasiswanya yang terlambat masuk kelas. Awalnya, saya tak begitu tertarik sama sekali, sebab berkisah tentang mahasiswa terlambat itu mah biasa, saya berpikir mungkin ia tidak punya cerita lain untuk membuka perjumpaan dengan sahabat lamanya. Namun, saya mulai mendongak dan serius mendengarkan ketika mahasiswa yang terlambat itu ternyata mampu menggugah dosen sekaliber dia. Mahasiswa itu memang pendiam, tapi dia yang mampu menghidupkan kelas dengan pendapat dan wawasan yang ia miliki. Maka ketika tak terlihat batang hidungnya, kelas menjadi sepi dan kurang menarik.

Seusai kelas berakhir, seorang mahasiswa menghampirinya, dan bilang bahwa ia bukan tidak masuk kelas, tetapi terlambat datang. Setelah ditanya lebih jauh, mahasiswa pendiam itu malu masuk ke kelas hanya gara-gara terlambat datang. Malu karena telah menodai kesepakatan di kelas yang dibuatnya bersama dosen dan teman-teman kelasnya.

Ah, saya pun tergugah, bukan karena apa, tapi soal rasa malu kepada aturan yang ia buat. Sebab bagi saya, mahasiswa tersebut mencoba menghargai dirinya sebagai salah satu anggota masyarakat yang tak ingin menabarak aturan. Memang ini hanya kisah seorang mahasiswa, tapi yang membuat kita berkesan adalah tentang perasaan malunya.

Iya, “Malu”. Kata yang singkat dan padat, tapi mahal harganya. Ia serupa barang yang langka. Ia mulai lekang oleh waktu. Terkikis dan nyaris tak tersisa. Malu bermetamorfosis jadi mitos. Warisan leluhur yang hanya jadi legenda. Padahal sabda Nabi, rasa malu itu sebagian dari Iman.

Lihatlah negeri kita dengan seksama, kita punya seabrek kelebihan. Sumber daya alamnya yang melimpah ruah, tanah yang subur, dan SDM yang berlibat ganda. Namun itu samua ilusi. Kenapa? Jawabannya sederhana, kita belum memiliki budaya malu. Sekadar menyebut contoh, korupsi skali kecil saja terus berkembang biak. Dari masyarakat akar rumput hingga kalangan elite. Benar kata sebagian kalangan, di rumah ini hanya ada orang-orang yang egois dan serakah, dan tidak ada yang berani malu ketika berbuat salah.

Kembali kepada diri kita sendiri, manusia itu seperti mahkluk bermoral ambigu. Di satu sisi menyenangi kebaikan tapi di sisi lain kerap melanggar nilai dan norma. Kita mengutuk suap, kolusi, dan nepotisme. Tapi kita juga memberi ruang proses-proses berlangsungnya perbuatan tunaadab tersebut. Bahkan perbuatan-perbuatan yang tidak tahu malu itu kerap dipertontonkan oleh pejabat negara. Lagi-lagi, dari hulu ke hilir. Tidak hanya kalangan elite semata, tetapi juga dipertontonkan di pemerintahan desa.

Berangakat dari kenyataan dia atas, saya memimpinkan rasa malu membudaya di ranah keluarga. Sebab peran orang tua sangat menentukan kualitas karakter dan martabat kepribadian anak-anaknya. Anak perlu diajarkan sejak dini tentang berbuat kebajikan dan peduli kepada sesama. Termasuk perlu diajarkan bahwa mengambil barang yang bukan haknya merupakan tindakan yang amoral dan tidak terpuji. Saya sangat yakin, keluarga merupakan benteng yang kokoh dalam menanamkan nilai-nilai kepribadian kepada anak. Kita butuh generasi-generasi yang punya rasa malu untuk membangun bangsa yang beradab dan bermartabat.

Selain itu, saya juga memimpikan pendidikan berkarakter di sekolah-sekolah. Kita berharap lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini juga ikut andil menumbuhkan budaya malu terhadap anak didik. Sebab hanya di lembaga pendidikanlah yang mampu memproduksi anak didik yang punya kecakapan nilai dan sikap.

Namun, beberapa hal di atas akan menjadi tidak berarti kalau hukum masih tidak setajam “silet”. Hukum harus tegas dan tak boleh pandang bulu. Apalagi kalau hanya tajam ke atas, dan tumpul ke bawah. Kita berharap penegak hukum bekerja secara profesional dan proporsioanal. Itu semua juga berarti tanpa sumbangsih dari masyarakat umum. Masyarakat juga ikut andil, jangan takut untuk melapor jika ada serangkaian pungutan liar terjadi. Wallahu A’lam

Artikel Lainnya

Oleh : Salman Rusydie

Resonansi

Oleh : Fathor Rahman, S.Pd

Sehat dengan Membaca

Oleh : Fadhilatul Aini

Sempatkan!

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar