
Wanita Karangan
Sebagaimana mutiara, cintaku tumbuh
dari dasar samudera yang jauh
Kerling kemurniannya menyilaukan mata
Menusuk menembus palung merah jiwa
Pada namamu yang senantiasi menghantui
hendak kupetik mentari
Namun, sesaat sebelum berhasil menggapainya
jari jemari mimpiku telah patah berkali-kali
Pastaskah aku jika berlari
mengejar harapan tanpa materi
menelusuri lorong yang tak bertepi
mengikuti kata hati
untuk mencoret cerita cinta lagi?
–
–
Kalamullah
Secercah cahaya memancar di lautan angkasa
Kilau berkilauan di antara 124 ribu bintang
Singa itu lahir dari sungai nestapa
Aumannya menjelma gelombang
menggulung, menumpaskan durjana
Pasir putih di bibir pantai
Menjadi saksi bisu pembelaan
Tongkat kayu diacungkan, menetaslah seekor ular
Tongkat kayu ditancapkan, terbelahlah lautan
Mereka berlari menelusuri lorong panjang
Sambil menggiring lalat yang mencari kotoran
Lalu dari belakang, terdengar suara menggelegar:
“Hei, pendusta, penghianat, penista, jangan lari kau!”
Segerombolan lalat terus terbang
Lari terbirit-birit diselimuti ketakutan
Hingga gelombang yang menjulang
Memangsa keledai yang menyebut dirinya tuhan
Rasa geram dan kasihan bercampur aduk di pikiran
Seolah berkata: “Tolong dia. Angkat dia dari neraka.”

*) AHMAD WILDAN, lahir di candi, dungkek. Saat ini tercatat sebagai siswa kelas XII MA, Nasy-atul muta’allimin, candi, dungkek, Sumenep.
Tinggalkan Komentar